PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea
mays L., adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian yang menurut
sejarahnya berasal dari Amerika.Orang-orang Eropa yang datang ke Amerika
membawa benih jagung tersebut ke negaranya.Melalui Eropa tanaman jagung terus
menyebar ke Asia dan Afrika.Baru sekitar abad ke-16 tanaman jagung ini oleh
orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah lainnya di Asia
termasuk Indonesia (Wirawan dan wahab, 2007).Di Indonesia daerah-daerah
penghasil tanaman jagung adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura,
Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi
Selatan, dan Maluku. Khusus daerah Jawa Timur dan Madura, tanaman jagung
dibudidayakan cukup intensif karena selain tanah dan iklimnya sangat mendukung
untuk pertumbuhan tanaman jagung (Warisno, 2007).
Jagung merupakan salah satu pangan dunia yang terpenting
selain gandum dan padi.Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan
Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika
Serikat.Penduduk beberapa daerah di Indonesia juga menggunakan jagung sebagai
bahan pangan yang penting.Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga
ditanam (Suprapto, 1999).
Prospek usaha tani tanaman jagung cukup cerah bila dikelola
secara intensif dan komersial berpola agribisnis.Permintaan pasar dalam negeri
dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun,
baik untuk memenuhi kebutuhan pangan.Hasil penelitian agroekonomi tahun 1981-
1986 menunjukkan bahwa permintaan terhadap jagung terus meningkat (Rukmana,
1997).
Memiliki sel-sel seludang pelbuluh yang mengandung klorofil.
Di dalam sel ini terjadi dekarboksilasi malat dan aspartat yang menghasilkan
CO2 yang kemudian memasukki siklus calvin membentuk pati dan sukrosa. Di tinjau
dari segi kondisi lingkungan, tanaman C4 teradaptasi pada terba (Irfan, 1999).
Pemerintah telah memprogramkan peningkatan
produktivitas pertanian sub sektor tanaman pangan melalui ketersediaan varietas
unggul baru spesifik lokasi. Penyebaran varietas unggul akan terwujud apabila
varietas hasil persilangan ataupun seleksi yang dihasilkan oleh balai komoditas
nasional tersedia dalam jumlah memadai dan siap diadaptasikan. Pengkajian
bertujuan untuk mengetahui varietas jagung komposit (bersari bebas yang adaptif
pada lahan kering di Sulawesi Tenggara.Uji adaptasi beberapa varietas jagung
komposit di kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara dilaksanakan
pada tahun 2012.Pengkajian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
dengan tiga ulangan. Varietas jagung komposit terdiri dari lima varietas
sebagai perlakuan yaitu varietas Lagaligo, Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning-1
dan Anoman-1. Luas setiap ulangan 0,25 ha, varietas jagung yang di uji berasal
dari Balitsereal Maros. Lahan diolah sempurna, ditanam secara tugal dengan
jumlah benih dua per lubang.Pemupukan diberikan sesuai dengan anjuran
berdasarkan analisa Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).Data hasil pengamatan
berupa tinggi tanaman, tinggi letak tongkol, diameter tongkol, panjang tongkol
dan produktivitas dianalisis dengan uji rata-rata antar varietas.Hasil
pengkajian menujukkan bahwa varietas jagung Sukmaraga adaptif di tiga lokasi
dibandingkan dengan varietas Lamuru, Lagaligo, Srikandi Kuning-1 dan Anoman-1,
baik dari variabel pengamatan terhadap keragaan agronomis maupun keragaan
Produktivitas. Tingkat produktivitas tertinggi pada varietas jagung Sukmaraga
rata-rata mencapai 5.05 t/ha – 7.64 t/ha, terendah pada varietas Anoman-1
dengan rata-rata produktivitas 3,75 t/ha.
|
Persilangan merupakan cara yang paling
populer untuk meningkatkan variabilitas genetik, bahkan sampai sekarang karena
murah, efektif, dan relatif mudah dilakukan. Berbagai galur hasil rekayasa
genetika pun biasanya masih memerlukan beberapa kali persilangan untuk
memperbaiki penampilan sifat-sifat barunya.Pada dasarnya, persilangan adalah
manipulasi komposisi gen dalam populasi. Keberhasilan persilangan memerlukan
prasyarat pemahaman akan proses reproduksi
tanaman yang bersangkutan (biologi bunga). Berbagai macam skema persilangan
telah dikembangkan (terutama pada pertengahan abad ke-20) dan menghasilkan
sekumpulan metode pemuliaan yang telah diterapkan pada berbagai perusahaan
perbenihan
Tujuan
Adapun untuk mengetahui persilangan hibridasi dan perbandingan
pertumbuhan dan perkembangan jagung lagaligodan jagung bromo.
Kegunaan
Adapun kegunaan dari praktikum ini
yaitu dapat mengetahuidengan
cara persilangan agar dapat menghasilkan
varietas unggul.
TINJAUAN PUSTAKA
Budidaya Jagung
Syarat Pertumbuhan
Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan
diri denganlingkungan di luar daerah tersebut.Jagung tidak menuntut persyaratan
lingkunganyang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan
pada kondisitanah yang agak kering.Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya, jagung
menghendakibeberapa persyaratan.
Iklim
Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah
daerahdaerahberiklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang
basah.Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga
0-40derajat LS.Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini
memerlukan curahhujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata.Pada fase
pembungaandan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup
air.Sebaiknyajagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim
kemarau.Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari.
Tanamanjagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana,
danmemberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buahSuhu
yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagipertumbuhan
tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajatada proses
perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajat. Saat
panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripadamusim hujan,
karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji danpengeringan hasil.
Media Tanam
Jagung tidak memerlukan persyaratan
tanah yang khusus.Agar supaya dapattumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan
kaya humus.Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal
dari gunungberapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan
tekstur berat(grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik
denganpengolahan tanah secara baik.Sedangkan untuk tanah dengan teksturlempung/liat
(latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya.
Ketinggian Tempat
Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai
dari dataran rendah sampai di daerahpegunungan yang memiliki ketinggian antara
1000-1800 m dpl.Daerah denganketinggian optimum antara 0-600 m dpl merupakan
ketinggian yang baik bagipertumbuhan tanaman jagung.
Pembibitan
Persyaratan Benih
Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu
genetik, fisikmaupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh
besar, tidaktercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak
tercemar hamadan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila
menggunakan benihbersertifikat.Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat
bergantung padakesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh
benih.Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi
yanglebih tinggi. Tetapi jagung hibrida mempunyai beberapa kelemahan
dibandingkanvarietas bersari bebas yaitu harga benihnya yang lebih mahal dan
hanya dapatdigunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah
terbatas. Beberapavarietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah:
Hibrida C 1, Hibrida C2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga,
Wiyasa, Arjuna, BasterDankuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi,
Bogor Composite, Parikesit,Sadewa, Nakula. Selain itu, jenis-jenis unggul yang
belum lama dikembangkanadalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar
1 dan Semar 2(semuanya jenis Hibrida).
Penyiapan Benih
Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari
beberapa tanamanjagung yang sehat pertumbuhannya. Dari tanaman terpilih,
diambil yangtongkolnya besar, barisan
biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot,
|
Pemindahan Benih
Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida
sepertiBenlate, terutama apabila diduga akan ada serangan jamur. Sedangkan
biladiduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih
dimasukkanke dalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik
sepertiFuradan 3 G.
Pengolahan Media Tanam
Pengolahan tanah bertujuan untuk: memperbaiki kondisi tanah, dan
memberikankondisi menguntungkan bagi pertumbuhan akar. Melalui pengolahan
tanah, drainasedan aerasi yang kurang baik akan diperbaiki. Tanah diolah pada
kondisi lembabtetapi tidak terlalu basah. Tanah yang sudah gembur hanya diolah
secara umum :
Persiapan
Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah
agardiperoleh tanah yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang
akanditanami (calon tempat barisan tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm,
kemudiandiratakan. Tanah yang keras memerlukan pengolahan yang lebih
banyak.Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan diratakan.
Pembukaan Lahan
Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa
tanamansebelumnya.Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunyadikembalikan
ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan danpengolahan tanah
dengan bajak.
|
Pembentukan
Bedengan
Setelah tanah diolah, setiap 3 meter
dibuat saluran drainase sepanjang barisantanaman.Lebar saluran 25-30 cm dengan
kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuatterutama pada tanah yang drainasenya jelek.
Pengapuran
Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah
harus dikapur.Jumlah kapur yangdiberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan
tiap 2-3 tahun. Pemberiandilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata
atau pada barisantanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam. Dapat pula digunakan
dosis 300 kg/haper musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman.
Pemupukan
Apabila tanah yang akan ditanami tidak
menjamin ketersediaan hara yang cukupmaka harus dilakukan pemupukan. Dosis
pupuk yang dibutuhkan tanaman sangatbergantung pada kesuburan tanah dan
diberikan secara bertahap. Anjuran dosisrata-rata adalah: Urea=200-300 kg/ha,
TSP=75-100 kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha.Adapun cara dan dosis pemupukan untuk
setiap hektar:.
Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem
produksi tanaman.Dengan polatanam ini
berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yangtersedia (agroklimat,
tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan social ekonomi). Pola tanam
di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusunselama 1 tahun dengan
memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahanyang sepenuhnya tergantung
dari hujan.Maka pemilihan jenis/varietas yangditanampun perlu disesuaikan
dengan keadaan air yang tersedia ataupun curahhujan. Beberapa pola tanam yang
biasa diterapkan adalah sebagai berikut:
|
Pembuatan Lubang Tanah
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal.
Kedalaman lubang perlu di perhatikan agarbenih tidak terhambat pertumbuhannya.
Kedalaman lubang tanam antara: 3-5 cm,dan tiap lubang hanya diisi 1 butir
benih.Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin
panjangumurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih
luas.Jagung berumur dalam/panjang dengan waktu panen ≥ 100 hari sejakpenanaman,
jarak tanamnya dibuat 40x100 cm (2 tanaman /lubang).Jagungberumur sedang (panen
80-100 hari), jarak tanamnya 25x75 cm (1tanaman/lubang).Sedangkan jagung
berumur pendek (panen < 80 hari), jaraktanamnya 20x50 cm (1 tanaman/lubang).Kedalaman
lubang tanam yaitu antara 3-5 cm.
Cara Penanaman
Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap
lubang ditanam satu tanaman.Dapat jugadigunakan jarak tanam 75 x 50 cm, setiap
lubang ditanam dua tanamanTanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat
air kurang atau saat airberlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim
hujan hamper berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya
cukup tersediaselama pertumbuhan tanaman jagung.Pada saatpenanaman sebaiknya
tanahdalam keadaan lembab dan tidak tergenang.
|
Pemeliharaan
Penjarangan dan
Penyulaman
|
Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman
pengganggu(gulma).Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali.Penyiangan pada
tanamanjagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu
dansebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran
tanaman
yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.Hal ini
biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan
untukmemperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah.Selain
itujuga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya
aerasi.Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu,bersamaan
dengan waktu pemupukan.Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiribarisan tanaman
diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman.Dengan cara ini
akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenagabiasanya
pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitusetelah tanaman
berumur 1 bulan.
Pemupukan
|
|
Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali
bila tanah telahlembab.Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan
menjaga agartanaman tidak layu.Namun menjelang tanaman berbunga, air yang
diperlukanlebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara
bumbunantanaman jagung.
Waktu Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya
hama yangdapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang
digunakanyaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan
|
|
Hama Dan Penyakit
Hama
1. Lalat bibit (Atherigona
exigua Stein)Gejala: daun
berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitanatau bagian
yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadilayu, pertumbuhan
tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab:
lalat bibitdengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning
kehijauan dabbergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih
mutiara, dan panjanglalat 3-3,5 mm. Pengendalian:
(1) penanaman serentak dan penerapan pergilirantanaman akan sangat membantu
memutus siklus hidup lalat bibit, terutamasetelah selesai panen jagung; (2)
tanaman yang terserang lalat bibit harus segeradicabut dan dimusnahkan, agar
hama tidak menyebar; (3) kebersihan di sekitarareal penanaman hendaklah dijaga
dan selalu diperhatikan terutama terhadaptanaman inang yang sekaligus sebagai
gulma; (4) pengendalian secara kimiawi.
2. Ulat pemotong
Gejala:
tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diataspermukaan
tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya,akibatnya
tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah. Penyebab:beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon);
Spodoptera litura,penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis),
dan penggerek buah jagung(Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) bertanam secara serentak pada arealyang luas,
bisa juga dilakukan pergiliran tanaman; (2) dengan mencari danmembunuh
ulat-ulat tersebut yang biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelumlahan
ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan insektisida.
Penyakit
1. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora
javanica serta P.spora philippinensis. yang akan merajalela pada
suhu udara 27 derajat C ke atasserta keadaan udara lembab. Gejala: (1) pada tanaman berumur 2-3
minggu,daun runcing dan kecil, kaku dan pertumbuhan batang terhambat,
warnamenguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih;
(2)pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalamigangguan
pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulaidari bagian
pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanamandewasa, terdapat
garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1penanaman dilakukan
menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam danpola pergiliran tanaman,
penanaman varietas unggul; (3) dilakukan pencabutantanaman yang terserang,
kemudian dimusnahkan.
2. Penyakit
bercak daun (Leaf bligh)
|
Panen
Hasil panen jagung tidak semua berupa
jagung tua/matang fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Seperti pada
tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga dapat dibedakan dalam 4
tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan masakkering/masak mati.
Ciri dan Umur Panen
Ciri jagung yang siap dipanen adalah.Umur
panen adalah 86-96 hari setelah tanam.Jagung siap dipanen dengan tongkol atau
kelobot mulai mengering yang ditandaidengan adanya lapisan hitam pada biji
bagian lembaga.Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak
membekas.Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya
terisi penuh.Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk
direbus dan dibakar,dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih
berwarna hijau, dan bilabiji dipijit tidak terlalu keras serta akan
mengeluarkan cairan putih. Jagung untukmakanan pokok (beras jagung), pakan
ternak, benih, tepung dan berbagai keperluanlainnya dipanen jika sudah matang
fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daundan kelobot telah menguning.
Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklatkehitaman pada tangkainya
(tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijitdengan kuku, tidak
meninggalkan bekas.
Pemuliaan Dan Persilangan (Hibridisasi)
Hibridisasi merupakan
suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies pada setiap tanaman.Yang
mempunyai tujuan untuk memperoleh organisme dengan sifat-sifat yang diinginkan
dan dapat berfariasi jenisnya. Pada peristiwa hibridisasi akan memperoleh
kombinasi genetikyang diperoleh melalui persilangan dua atau lebih tetua yang
berbeda genotipnya. Emaskulasi atau sering disebut kastrasi merupakan
pengambilan tepung sari pada kelamin jantan agar tidak terjadi penyerbukan
sendiri. Dalam proses pengam,bilan tepung sari tersebut dilakukan pada saat
sebelum kepala putik masak agar lebih menjaga dan memperkecil kemungkinan
terjadinya penyerbukan (ferdy. 2008). Sesuai dengan hubungan kekeluargaan
tanaman yang akan disilangkan ada beberapa macam
|
Keragaman genetik merupakan salah
satu hal penting dalam perakitan dan pengembangan varietas baru dari suatu
komoditas, termasuk jagung. Banyak karakter yang diinginkan pada tanaman
jagung, di antaranya menyangkut hasil, kualitas, dan ketahanan terhadap hama
penyakit. Menurut ameriana et al. (1998)
Teknik persilangan
Persilangan
merupakan salah satu cara untuk menghasilkan rekombinasi gen. Secara teknis,
persilangan dilakukan dengan cara memindahklan tepung sari kekepala putik pada
tanaman yang diinginkan sebagai tetua, baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri
(self polination crop) maupun pada tanaman yang menmyerbuk silang (cross
polination crop).keberhasilan persilangan sangat ditentukan oleh pemulia
tanaman mengenai tehnik persilangan itu sendiri
Maupun pada pengetahuan akan bunga, misalnya:Stuktur
bunga.Waktu berbunga.Saat bunga mekar.Kapan bunga betina siap menerima bunga
jantan (tepung sari).Tipe penyerbukan.
Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan pada kegiatan persilangan buatan, yaitu:
Periode bunga tertua
jantan dan betina yaitu. Pengaturan waktu tanam yang perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga
saat keluarnya bunga hampir serentak antara kedua tetua yang disilangkan.Waktu
emaskulasi dan persilangan.
Metode pemuliaan yang
terbukti telah berhasil terhadap speciesperbanyakan sendiri berada pada
kategori sebagai berikut :
Seleksi galur murni adalah seleksi ini
digunakan untk memilih varietas baru dari varietas yang dahulu telah melewati
petani dari generasi ke generasi. Sebagian besar tanaman diseleksi dari
varietas tersebut dan dapat diharapkan bersifat homozigot dan inilah titik awal
dari perkembangan pemuliaan. Seleksi massal adalah seleksi ini
berbeda dengan seleksi galur murni dalanjumlah tanaman dimana tidak hanya
sebatang yang diseleksi untuk mendapatkan varietas baru. Varietas yang
dikembangkan dengan cara ini mencakup beberapa genotipe yang lebih banyak
dibandingkan populasi induknya.Metode hibridisasi, dengan pemisahan secara
:Metode catatan terhadap galur asal usul.Metode silsilah digunakan secara luas oleh
pemuliaan tanaman saat ini. Ia menurunkan namanya dari catatan yang disimpan oleh
pendahulunya. Seleksi ini keungulanya didasarkan pada keadaan fisik dan sifat
yang lain dari individu.Metode curah
adalah metode ini digunakan jika seleksi buatan dilakukan selama perbanyakan massal, pemilihan iini biasanya didasarkan atas tabiat dari individu tanaman.Metode persilangan kembalidalam metode ini diulang manjadi induk yang dikehendaki selama seleksi di kerjakan terhadap sifat karakteristik yang sedangdipindahkan dari dari satu donor induknya.(r.w. Allard, 1992)
adalah metode ini digunakan jika seleksi buatan dilakukan selama perbanyakan massal, pemilihan iini biasanya didasarkan atas tabiat dari individu tanaman.Metode persilangan kembalidalam metode ini diulang manjadi induk yang dikehendaki selama seleksi di kerjakan terhadap sifat karakteristik yang sedangdipindahkan dari dari satu donor induknya.(r.w. Allard, 1992)
Penyerbukan silang
penyerbukan
silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter kestigma bunga yang berbeda Terjadinya
penyerbukan silang disebabkan oleh.
Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri.
Jagung adalah tipe
monocious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang. Serbuk
sari mudah diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan penyerbukan
sendiri bisa terjadi 5% atau lebih. Ada perbedaan
besar dalam hal penyerbukan pengontrolan polinasi silang dan juga kemudahan
pengontrolan polinasi silang oleh pemulia tanaman. Beberapa species mempunyai
sifat tidak serasi dan dapat dikawinkan tanpa adanya kesulitan terhadap sifat
yang tidak cocok.
Metode penting yang sesuai dengan penyerbukan
silang antara lain:
Seleksi massal ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-macamvarietas yang disilangkan.dalam seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya.
Seleksi massal ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-macamvarietas yang disilangkan.dalam seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya.
Pemuliaan persilangan
kembali
|
Seleksi berulang
seleksi yang diulang, genotip[e yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk disilangkan.
seleksi yang diulang, genotip[e yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk disilangkan.
Pengembangan varietas buatan. (r. W.
Allard, 1992).
Varietas yang di dirilis ( balit seraeal)
Berikut beberapa varietas yang telah
dirilis oleh Balit Serealia :
Varietas
Komposit
Varietas
komposit adalah varietas yang berisi bebas dimana varietas ini benihnya ditanam
beberapa kali tapi hasil produksinya kurang disbanding hibrida. Adapun varietas
komposit yang telah diliris di Balit Sereal diantarannya : Bima, Pandi,
Primadi, Arjuna, Bromo, Abimayu, Nakula, Sadewa, Wiyasa, Kalingga, Metro,
Baster kuning, Kania Putih, Malin, Harapan.
Varietas
Hibrida
Varietas hibrida
adalah varietas yang dihasilkan dari tetua yang memiliki produksi hasil lebih
tinggi dibandingkan komposit tetapi benihnya tidak boleh ditanam dua kali sebab
kalau ditanam maka sifat tetuanya akan kembali sehingga terjadi namanya gen
resesif dimana tanamannya tidak seragam pertumbuhannya sehingga menurunkan
hasil produksi mencapai 50%. Bahkan lebih.
Adapun varietas hibrida
yang telah diliris yaitu : pioneer 1 sampai pioneer 23, C-1 sampai C-10, A
(Andalas) 4, NKRI, Semar 1 sampai 10, Bisi 1 sampai 18, SHS-1, SHS 2, Jaya 1
dan Jaya 2, Bima-1, Bima-2, Bima-3 Bantimurung, Provit A1, Provit A2.
|
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum
Pemuliaan Tanaman ini dilakukan pada tanggal 11 April sampai 24 Juni 2015 di
Laboratorium Rumah Kaca (Green House) Fakultas Pertanian Universitas Muslim
Indonesia. Dan praktikum lapangan Mata Kuliah Pemuliaan Tanaman dilaksanakan
pada hari Rabu tanggal 17 Juni 2015 di Balai Penelitian Tanaman Jagung dan
Serealia (Balit Sereal) Kab. Maros.
Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum ini yaitu :
Pulpen, penggaris, buku, label,
kertas/plastik pembungkus malai, cotton bud untuk mengambil dan menempelkan
serbuk sari pada bunga betina/tongkol, dan polibag.Kemudian bahan yang
digunakan adalah tanah, benih jagung (Varietas Lagaligo) dan pupuk NPK.
Prosedur
Kerja
1. Mengisi
media tanam (tanah dengan kaya bahan organic) ke dalam polibag
2. Siram
polibag yang sudah di isi dengan media tanam sampai mendekati titik jenuh dan
setelah itu, tanam benih jagung Varietas Lagaligo pelihara dan
identifikasi/amati tanaman dari segi morfologinya baik, tinggi tanaman dan
jumlah daun, sampai pada fase generatif. Dengan catatan lakukan pemupukan pada
minggu ke tiga dan menjelang fase generatif yaitu pupuk NPK, dengan dosis
tertentu.
3. Setelah
mulai mucul rambut (putik) dan malai/tassel (benang sari) sebaiknya di sungkup
dengan menggunakan kertas minyak untuk
membungus bunga betina sampai tiba masaknya
4. Lakukan
persilangan dari serbuk sari Varietas Lagaligo ke kepala putik dengan menaburi serbuknya
diatas kepala putik begitupun sebaliknya. Setelah dilakukan penyerbukan bunga
betina di tutup dengan kembali dengan sungkup hingga panen.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Table 1. Rata-rata pertumbuhan vegetatif tanaman
jagung pada umur kurang lebih 4 minggu setelah tanam
Parameter
Pengamatan
|
Varietas
|
|||
Lagaligo
|
Bromo
|
|||
Tinggi
Tanaman
|
Jumlah
Daun
|
Tinggi
Tanaman
|
Jumlah
Daun
|
|
Pengamatan 1
|
80 cm
|
8 helai
|
86 cm
|
5 helai
|
Pengamatan 2
|
84 cm
|
9 helai
|
88 cm
|
7 helai
|
Pengamatan 3
|
90 cm
|
11 helai
|
90 cm
|
9 helai
|
Dari
hasil rata-rata table pertumbuhan vegetatif tanaman jagung diatas menunjukan
bahwa pertumbuhan jagung varietas Bromo lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan
dengan varietas lagaligo sedangkan untuk jumlah daun varietas Lagaligo lebih
banyak jumlahnya dibandingkan dengan daun Bromo
Table
2.Pengamatan Bunga Jantan dan Bunga Betina.
Parameter
Pengamatan
|
Varietas
|
|
Lagaligo
|
Bromo
|
|
Bunga Jantan
|
-
|
Ada
|
Bunga Betina
|
Ada
|
-
|
Dari hasil tabel diatas menunjukkan
bahwa untuk varietas Lagaligo tidak mempunyai bunga jantan tetapi pada varietas
Bromo memiliki bunga betina dan biasanya pada umur 4 minggu sudah mengeluarkan
bunga jantan dan bunga betina pada umumnya, namun karena adanya faktor yang
kurang mendukung seperti faktor lingkungan sehingga jagung tersebut lambat
mengeluarkan bunga jantan dan bunga betina.
Pembahasan
Dari praktikum persilangan tanaman jagung ini, kami
menggunakan jagung varietas lagaligo dengan varietas bromo, selain melakukan
hibridisasi tetapi kami juga mengamati pertumbuhan tanaman jagung tersebut.
Dari table pengamatan yang kami lakukan terlihat bahwa minggu pertama tanaman
jagung memiliki tinggi tanaman 80 cm kemudian jumlah daun 8 helai, minggu kedua
tinggi tanaman jagung mencapai 84 cm dengan jumlah daun seluruhnya 9 helai dan
kemudian pada minggu ketiga tanaman jagung lagaligo mengalami kenaikan tinggi
mencapai 90 cm dan bertambah jumlah daun
11 hela, pada table pengamatan kedua dapat dilihat bahwa jagung lagaligo tidak
memiliki bunga jantan sedangkan bunga betina tanaman jagung lagaligo berbunga.
Pada tanggal 23 Mei kami melakukan persilangan (crossing) dikarenakan bunga betina beserta bunga jantan sudah siap
untuk diserbuki. Dalam persilangan ini tanaman jagung Lagaligo digunakan
sebagai betinanya sedangkan tetua jantan
dapat diambil dari varietas Bromo.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
keberhasilan dan kegagalan dalam hibridisasi atau persilangan tanaman menyerbuk
silang yaitu :
Pemilihan Tetua
Ada
lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan
yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur
pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi
tanaman dan (e) spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju
akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas
komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan
tetua-tetua varietas sintetik.
Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus
diperhatikan:Penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina
harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan,Waktu
emaskulasi dan penyerbukan.Pada tetua betina waktu emaskulasi harus
diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila
melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma.Juga waktu penyerbukan harus
tepat ketika stigma reseptif.Jika antara waktu antesis bunga jantan dan
waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan
singkronisasi.
Cuaca Saat Penyerbukan
|
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Dari praktikum tersebut dan pengamatan yang
dilakukan maka dapat diambil kesimpulan
bahwa kita dapatmengetahui bagaimana
persilangan dengan cara hibridisasi. Persilangan hibridasi yaitu
penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya.Pada tanaman
menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan
setelah dilakukan pemilihan tetua.Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk
sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda
genotipenya.Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk
menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan
varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksugkan untuk memperluas
keragaman
Saran
Saran saya ketika kita melakukan
praktikum sebaiknya jangan ada yang terlambat dan harus datang tepat waktu yang
telah ditentukan oleh asisten dosen.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2000. Penanggulangan kerusakan
biji jagung oleh hama S. zeamais dengan berbagai alat/cara penyimpanan.
Penelitian Pertanian Tanaman pangan 19: 1 - 5.
Anonim.
2005. Kontaminasi mikotoksin pada bahan pangan dan pakan di Indonesia. Makalah
disampaikan pada Simposium Mikotoksin dan Mikotoksis. Jakarta, 30 Juli 2005.
Anonim.
2006. Proses pascapanen untuk menunjang perbaikan produk biji jagung berskala
industri dan ekspor. Laporan Hasil Penelitian P2TP, Balai Penelitian Tanaman
Serealia. Maros. p. 1-15.
Anonim.
2003. Highligth Balai Penelitian Tanaman Serealia 2002. Balai Penelitian
Tanaman Serealia. Maros. p. 14-16.
Anonim. 1997. Penanganan panen dan pascapanen jagung
dalam rangka peningkatan mutu jagung untuk industri/ekspor. Seminar Temu Teknis
Badan Pengndali Bimas, Departemen Pertanian. Jakarta, 27 Pebruari 1997.
LAMPIRAN
GAMBAR

Gambar 1. Tanaman Jagung Varietas
Lagaligo

Gambar 2. Pada hari ketiga Tanaman
Jagung akan diberikan pupuk NPK.

Gambar 3.Pada tanggal 23 Mei kami melakukan
persilangan (crossing) dikarenakan
bunga betina beserta bunga jantan sudah siap untuk diserbuki. Dalam persilangan
ini jagung Lagaligo digunakan sebagai
betinanya sedangkan tetua jantan dapat diambil dari varietas Bromo.
Adapun gambar pada saat praktik
lapang di Balit Sereal :

Gambar 4. Pada saat praktik lapang
di Maros Balit Sereal
